Rabu, 13 Januari 2010

Simfoni Masa Puber - Koko Putih dan Celana Hitam

Hari pertama masuk sekolah di kelas X SMA, seperti biasa dihadapkan dengan satu perayaan baru berupa MOS, Masa Orientasi Sekolah, kalo di SMA ini disebut Pekan Ta’aruf yang berarti juga masa pengenalan atau masa orientasi. Akan sangat panjang rasanya jika dibuat susah MOS ini apalagi dimarah-marahi atau dengan tugas yang aneh-aneh, berpikir positif dan dibawa enjoy membuat semuanya akan lebih mudah bukan.

Canggung rasanya, apalagi bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai daerah karena sekolah ini cukup terkenal nampaknya di luar Bandung, tapi berbeda dengan ketenaran di Bandung-nya sendiri (walau sekarang sudah banyak yang tahu akan sekolah ini). Ada yang berasal dari Bontang, Sangata, Palembang, Jakarta, Balikpapan, Medan dan lain-lain, seperti Taman Mini dengan ukuran yang lebih kecil. Dengan jumlah siswa yang berasal dari sekolah saya sedikit sehingga dengan keterbatasan kepribadian saya (pemalu atau lebih bisa dikata minder) menjadikan saya agak susah berkenalan pada awalnya. Jika dilihat sudah banyak yang kenal satu sama lain, karena sekolah ini memiliki asrama sehingga siswa-siswa yang berasal dari luar Bandung kebanyakan tinggal di asrama tersebut.

Jam 6.00, saya harus sudah berada di sekolah tersebut, tepatnya di depan sebuah mesjid megah, yang dibangung sepertinya oleh yayasan pendiri SMA tersebut. Saya dan teman-teman saya dikumpulkan dan seperti biasa, diadakan sebuah upacara sebagai simbolisasi masa orientasi tersebut dimulai. Kami dibagi kelompok sesuai dengan bulan kami lahir atau horoskop kami, saya agak lupa. Saya dikelompokkan pada bulan Agustus.

Langsung saja acara dilanjutkan dengan adanya pemeriksaan tugas oleh panitia, jika tidak lengkap langsung saja ditandai dan “katanya” akan “dihukum”. Acara demi acara dilewati hingga akhirnya sampai pada waktu shalat dhuhur. Kami diberi kesempatan untuk shalat di mesjid depan gedung kami diorientasi. Hah, ada waktu untuk saya menghirup nafas kebebasan dari senioritas di acara orientasi tersebut, saya bersama teman-teman SMP saya (karena masih kurang dekat dengan yang lain), Akbar, Emir langsung berangkat untuk shalat dhuhur.

Keluar dari mesjid, memakai sendal bakiak, dan pakaian yang diwajibkan dipakai saat orientasi, koko putih dan celana hitam membuat saya layaknya seorang santri (padahal bukan), tidak ada basa-basi kami diwajibkan masuk kembali ke tempat orientasi. Makan siang, waktu yang paling dinanti karena perut ini sudah kelaparan, yummy dengan makanan yang dibawa pada saat tugas pertama diberikan. Kami mulai mengobrol satu sama lain dan saya pun mulai mendekatkan diri dengan yang lain agar punya banyak teman.

Semua acara pada hari itu akhirnya selesai, sore hari setelah shalat ashar kami dikumpulkan terlebih dahulu untuk pemberian tugas di hari berikutnya. “Besok akan menjadi hari yang penuh cerita lagi pikir saya, pulang ke rumah langsung lengkapi tugas yang dikasih, bangun pagi, berangkat lagi ke sekolah ini”, ujar saya dalam hati.

Simfoni Masa Puber - Prolog

Bermula pada tahun 2004, saya lulus dari SMP 9 Bandung. Layaknya anak SMP yang baru lulus, tentu saja menginginkan SMA yang bagus. Bermimpi ingin masuk sebuah SMA favorit di Bandung, namun kandas karena nilai UN yang tidak cukup memuaskan. Akhirnya saya hanya mendaftarkan diri ke sma negeri 9 di bandung. Alhamdulillah saya diterima untuk menjadi siswa di sma tersebut, namun saya lebih memilih untuk masuk sebuah sma swasta yang kala itu saya baru mendengar namanya, SMA Darul Hikam.

Dengan percaya diri saya meminta kepada ibu saya untuk mendaftarkan diri ke SMA tersebut. Setelah mendaftarkan diri, saya langsung dihadapkan dengan ujian saringan masuk yang lebih condong ke psikotes dan pelajaran-pelajaran dasar. Setelah beberapa menunggu akhirnya saya pun diterima di SMA tersebut.

Dalam surat penerimaan siswa baru tersebut saya diminta untuk datang pertama kalinya di SMA itu. Awalnya miris dengan kondisi bangunan yang ada, rasanya kurang sesuai dengan apa yang dibayangkan bahwa SMA ini memiliki fasilitas yang sangat memadai, namun apa dikata, hal tersebut hilang semua ketika pertama kali datang ke sana. Melihat gedung tiga lantai dengan tangga didesain 45o cukup mengerikan bagi saya yang memiliki fobia ketinggian. Setelah itu saya diperkenalkan dan di momen itulah saya dihadapkan dengan tugas pertama untuk orientasi sekolah, layaknya penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah.

Saya tidak terlalu ingat akan apa saja tugas yang diberikan panitia pada saat itu. Mungkin seperti tugas-tugas biasa yang sering diberikan pada siswa SMA baru, dengan nama-nama aneh, name tag penyanyi dangdut, obat-obatan dan lainnya. Memang ribet , tetapi suka tidak suka, enak tidak enak, itu semua harus dijalani, jika tidak yang ada hanya hukuman-hukuman aneh ala SMA.